Dari pengalaman saya hidup di Jawa ada satu hal yang sangat saya perhatikan dan cukup mengganggu saya, yaitu kecenderungan orang jawa untuk mengumpulkan uang dan menghabiskannya untuk keperluan yang menurut saya tidak terlalu penting, yaitu SELAMETAN!
Maaf buat kamu yang orang jawa, tapi sebelum protes coba lihat daftar di bawah ini:
- Mitoni (selametan usia janin tujuh bulan)
- Kekah (Selametan kelahiran bayi)
- Pidhak bumi (Selametan si bayi pertama nginjek tanah)
- Tetak (Selamatan khitan/Sunatan)
- Lamaran
- Tunangan
- Midodareni
- Siraman
- Akad
- Resepsi
- Tahlilan hari pertama
- Tahlilan hari kedua
- Tahlilan hari ketiga
- Nujuh hari
- Nyeratus hari
- Setahunan (selametan memperingati setahun kematian)
- Dua tahunan
- Tiga tahunan
- Nyeribu hari
Sekarang mari kita berhitung, sejak si Orang Jawa lahir sampai dengan 1000 hari meninggalnya ada 19 Selametan/acara yang harus mereka tanggung.
Bila kita pukul rata setiap acara menghabiskan dana 5 juta berarti satu orang jawa menghabiskan 95 juta dalam hidupnya untuk mengadakan selamatan.
Angka ini akan menjadi fantastis bila kita menghitung bahwa ada sekitar 50 juta orang Jawa yang tersebar di seluruh Indonesia, itu berarti ada uang sejumlah 4.750.000.000.000.000 (4750 triliun!) yang di hamburkan hanya untuk selametan!
Tahukah kalian bahwa APBN indonesia tahun 2007 ini sebesar 746 Triliun, berarti pengeluaran orang Jawa untuk mengadakan selamatan bila disumbangkan kepada negara bisa untuk menanggung APBN Indonesia selama 6 tahun!
Tahukan juga kalian bahwa hutang Luar negeri indonesia saat ini berjumlah 702 triliun, yang berarti bila orang Jawa mau berbaik hati untuk tidak mengadakan selamatan maka kita bisa melunasi semua hutang luar negeri kita plus bunganya bahkan bisa menjadi negara kreditor untuk 5 negara yang memiliki hutang luar negeri yang sama.
Sungguh miris memikirkan hal diatas bukan? apalagi seperti kita tahu tidak semua dari 50 juta orang Jawa itu adalah orang yang mampu, maka jalan satu-satunya bila mereka tidak memiliki uang namun harus mengadakan selametan berarti mereka harus berhutang. Seandainya sang arwah orang meninggal tahu bahwa keluarga yang ditinggalkannya harus berhutang hanya demi melakukan 9 kali selamatan untuk dirinya yang sudah meninggal, kira-kira apa ya komentar si arwah?
Now that’s why i give this blog the title “Orang Jawa Penghambur Duit”.
Sekali lagi maaf untuk kamu yang orang Jawa…
seeett daaaahh Ricky…hitunganmu akurat sekali…tapi memang gitu sih katanya selametan biar idupnya langgeng,bahagia dan selamet tapi eh tapi kadang agak gak menjamin juga…yang penting tuh doa dalam hati dengan keyakinan yang teguh…amin lah…
hhmmm tapi udah gak banyak orang jawa yang bela-belain bikin semua slametan itu kali ya.. contohnya my family (termasuk sepupu deket, sepupu jauh, om, tante, ponakan, misan, dll dll):P
Halo Dinda… hehe ya kalo soal hitung-hitungan duit gw lumayan cerdas haha…
Halo Mbak Diah, makasih ya udah mampir, emang sih ada beberapa yang gak bikin selametan lagi, tapi jumlahnya mungkin cuma segelintir mbak, coba cek blog friendste saya, disitu ada potongan koran kompas yang membuktikan postingan saya ini.
hmmm… bknkah disitu letak keunikannya orang jawa…!?!?! iya pa iya… haayooo…..:p
KENAPA TERGANGGU?? orang jawa sendiri yg melakoni asik aja..tidak terbebani oleh budaya acara selametan ini..palagi menganggapnya sbgai TANGGUNGAN.
bwt mitoni aj cukup 200ribuRUPIAH.
Hi Joko, salam kenal ya…
hehe… kalau ditanya kenapa terganggu, ya saya terganggu, dengan uang yang di habiskan sebanyak itu masak gak terganggu?
Bila memang mereka tidak terbebani lalu kenapa ya ada yang bunuh diri gara-gara gak bisa mengadakan selametan?
200 ribu? hmm… bro, udah pernah pergi ke pasar? please check harga cabe, gula dan beras sekarang berapa. Nah itu baru kalo yang datang cuma di empanin cabe ama teh manis, gak mungkin kan?