BAPAKKU SEORANG KORUPTOR

Bapakku seorang Pegawai Negeri di kota tempat ku tinggal. Bapak memiliki nama yang cukup panjang, itu sebabnya banyak sekali sebutan orang-orang untuk bapakku, tapi yang paling sering aku dengar orang-orang menyebutnya dengan “Pak Kepala”. Mungkin itu berhubungan dengan posisi Bapakku sebagai kepala bagian di kantornya.

Bapakku memiliki ijasah sarjana dari sebuah universitas terkemukan di Negara ini, itu sebabnya namanya diawali dengan tiga huruf “Drs”.

Dulu aku pernah bertanya pada ibuku,

“Ma, bapak itu kerjanya apa sih ma?”

ibuku menjawab ,“Oh, Bapak itu Kepala bagian di kantornya.”

“Si Dodi pernah cerita kalo ayahnya ada pangkat, Kalo bapak ada pangkat juga ma?”

“Ya ada dong Rani, bapak golongannya IV B, dia udah lama loh kerja , udah hampir 15 tahun”. Jawab Ibuku.

Aku hanya manggut-manggut saja, saat itu aku berpikir Bapakku pangkatnya tinggi dan posisinya cukup mentereng, pastinya Bapak punya gaji yang cukup lumayan.

Kenapa kubilang cukup lumayan? Karena kami memang hidup serba berkecukupan, Rumah kami bisa dibilang cukup mewah, bertingkat dua dengan fasilitas yang cukup komplit. Masing-masing kamar kami dilengkapi dengan computer, TV dan AC. Dan sepertinya sejak aku lahir aku mengetahui bahwa kami punya rumah lebih dari satu, ketika kami berlibur ke Puncak dan ke Jokja, Bapak selalu bilang “Ini rumah kamu juga”.

Satu peristiwa yang cukup membuatku heran adalah, sekitar sebulan yang lalu tanpa sengaja ketika aku masuk kekamar ibuku aku menemukan secarik kertas. Diatasnya bertuliskan “Departemen … Indonesia”

Lalu di baris bawahnya tertulis Nota Gaji Pegawai, tertera di sana nama ayahku beserta nomor induk pegawainya. Tertulis disana:

Gaji Pokok : Rp. 1.496.500

Tunjangan Jabatan : Rp. 360.000

Tunjangan istri (10%) : Rp. 149.650

Tunjangan Anak ((2%)x3) : Rp. 89.790

Tunjangan Beras : Rp. 76.960

TOTAL : Rp. 2.172.900

Melihat kertas tersebut seketika aku tertegun, selama ini ternyata aku salah sangka. Kukira bapakku berpenghasilan 50 jutaan keatas, karena untuk membeli rumah yang kami tinggali ini beserta rumah Puncak dan rumah Jokja tentunya lebih dari 1 milyar. Belum lagi aku, kakakku dan adikku masing-masing kami diberi mobil untuk tranportasi oleh bapak. Memang sih bapak dapat jatah mobil dinas kantor Kijang kapsul plat merah, tapi mobil itu lebih banyak mendekam di garasi ketimbang jalan. Bapak dan ibu lebih sering menggunakan Ford Escape kesayangan Bapak, kakakku yang tertua kemana-mana ngebawa sedan Genio nya, kakakku yang nomor dua dibelikan X-trail. Aku sendiri sejak lulus SMA diberi bapak hadiah Toyota Avanza.

Dari mana bapak dapat duit sebanyak itu? gaji bapak yang hanya dua juta lebih sedikit itu bahkan untuk membiayai listrik rumah kami saja mungkin kurang. Belum lagi kakakku yang nomor dua saat ini sedang sekolah ke Inggris ngelanjutin S-2 tekhnik nya disana, sementara kuliah kedokteranku sendiri adalah lewat jalur swadaya, sehingga bapak mengeluarkan uang hampir seratus juta ketika aku masuk kampus ini dua tahun lalu.

Tahun lalu kami sekeluarga berangkat Umroh, dengan mengikuti semacam tour yang ketika kubaca di brosurnya masing-masing orang dikenai biaya 5000 dollar.

Darimana bapak dapat uang sebanyak itu?

Dua hari yang lalu bapak kedatangan tamu, berpotongan rapi berjaket hitam. Bapak dan Ibu sempat bercakap-cakap sebentar dengan mereka di ruang tamu, tidak lama kemudian bapak pergi bersama kedua orang yang menurut ibuku adalah teman kantornya bapak.

Sejak saat itu bapak tidak pernah pulang lagi, dan malam ini… aku melihat bapak di Televisi, tangan bapak terborgol…

(list gaji diatas adalah sesungguhnya untuk Pegawai Negeri golongan IVB dengan masa kerja 15 tahun)

PS. Kalian bisa ikut membantu memberantas budaya korupsi di negeri ini dengan cara yang sangat mudah yaitu BERTANYA, tanya ke orang tua kalian apa kerjaannya, berapa golongannya, search di google gaji nya, dan tanyakanlah bila ada yang aneh. Mari kita bantu keluarga kita untuk tidak terjerumus, mari kita mulai untuk bener-bener makan uang yang halal, mari kita berantas korupsi, mulai dari keluarga sendiri.

posted by rasyefki in Bangsa(t)ku and have Comments (6)

6 Responses to “BAPAKKU SEORANG KORUPTOR”

  1. Uang hasil korup ternyata dipake buat umroh juga tho… Menurutku mungkin awalnya ayah gak bermaksud untuk korupsi, tapi karna kepepet dan jalan untuk itu juga terbuka lebar makanya ayah jadi seperti itu. Dan keterusan deh….

    Tapi sebenarnya tergantung orangnya juga, kalo bisa bersyukur dengan apa yang didapatnya insya allah ada aja jalan yang baik dan lurus (semoga saja,amiin)…

  2. niken says:

    hai…
    nice blog…
    isi blognya menghibur sekali

  3. mEnuR says:

    untungnya bapakku bukan koruptor… hidup pas-pasan dan banyak hutang… setidaknya, beliau bukan koruptor, walau beliau suka mengutang… tapi beliau mengakui bahwa beliau mengutang… dan beliau tak pernah malu, karena beliau bukan koruptor…

  4. anindya says:

    Judulnya ngagetin deh, kirain beneran (maap ya..). Tapi bacanya bikin saya ngerasa ngenes, inget Bapak saya.. ;(

    Beliau pengajar di sebuah PTN di Jawa Tengah, golongan IVA, telah mengabdi selama 25 tahun kalau saya engga salah. Hidupnya gali lubang tutup lubang (beliau dan ibu saya jujur sekali mengenai kondisi keuangan keluarga). Kadang saya berharap seandainya bapak mau ‘bend the law without breaking it”. Tapi disisi lain saya bangga dengan idealisme Bapak saya.

    Hari kemarin saya abis ngeliat Nota Gaji Pegawai beliau. Besarannya sekitar 3 jutaan (masih gaji kotor). Sementara pacar saya yang baru kerja 6 bulan di sebuah institusi finansial gaji bersihnya selisih sekitar 1,5 juta dari bapak saya…

  5. rasyefki says:

    Adhie : yah namanya jaman sekarang, uang korupsi bisa buat apa aja, bahkan buat naek haji, buat bangun mesjid, menyantuni Yatim piatu dll (entah itu nanti akan jadi pahala atau gak).

    Niken : makasih ya mbak, selamat datang and keep reading…

    Menur : Alhamdulilah kalau begitu, setidaknya berhutan itu ada dalam aturan agama, dan bukan sesuatu yang diharamkan. Semoga kita semua terjaga dari korupsi.

    Anindya : Hehe… emangnya kalo beneran kenapa? Alhamdulilah ya saya salut loh sama bapak kamu, di Zaman seperti ini masih teguh memegang idealisme dan keyakinan, semoga gaji 3 jutaan itu hanya sebuah nominal tapi berkahnya lebih dari 3 milyar, Aminnnn…

  6. asfiandi says:

    hasil obrolan dgn bapak saya seperti ini
    “kebahagian itu,ga mutlak diukur dr besar kecilnya gaji,gaji bapak kecil,ga ada tunjangan jabatan,ga ada lembur,cuma kuli..tapi alhamdulillah barokah”
    ada juga di suatu sesi seperti ini
    “dalam hidup bapak,duit itu ada 3 golongan..
    1.duit yg boleh dimakan sama bapak dan keluarga.
    2.duit yg cuma boleh dimakan sama bapak,tp tidak untuk anak istri.
    3.duit yg sama sekali ga boleh dimakan sama bapak,maupun anak istri.
    mulai dari bbrp taun yg lalu bapak hanya berusaha nyari duit yg digolongan pertama”

    nice post teman

Place your comment

Please fill your data and comment below.
Name
Email
Website
Your comment