13 Years Unspoken Story…

Saya tidak pernah menceritakan hal ini kepada siapapun, bahkan dengan Ibu saya sendiri saja saya tidak pernah menceritakan hal ini, sampai dengan hari ini mungkin hanya saya dan Bu Oca yang tahu tentang kisah ini. Tadinya cerita ini mau saya simpan saja, tapi karena kemarin saya mendengar dari teman bahwa Bu Oca saat ini sedang berjuang melawan penyakitnya, maka akhirnya saya coba untuk menuliskan hal ini, hanya sekedar untuk mengingat bahwa mungkin tanpa campur tangan bu Oca saya tidak akan pernah menjadi seperti ini.

Saya masuk SMUN 2 tahun 1994. Saya di terima di kelas 1.5 kemudian setahun kemudian naik ke kelas 2.5 dan ketika masuk penjurusan di kelas 3 saya di masukkan ke kelas 3 IPS 1.

Sebelumnya selama di kelas 1 dan 2 saya hanya mengenal bu Oca sebagai seorang wakil kepala sekolah, tidak lebih, maklumlah beliau tidak mengajar di kelas kami dan saya sendiri juga bukan seorang yang cukup menonjol di SMU sehingga jarang berhubungan dengan beliau, dan saya juga yakin beliau tidak mengenal saya hehe…

Selama saya kelas 2 Cuma satu hal yang saya ingat dari beliau, yaitu beliau menghukum saya dan beberapa teman sekelas lainnya dengan menjemur kami di lapangan upacara karena ketahuan main basket di saat jam pelajaran berlangsung. Kami waktu itu sempat sedikit berargumen karena kelas kami kosong, guru yang mengajar sedang tidak masuk. So kami piker daripada bikin ribut di kelas atau melakukan yang nggak-nggak, maka kami main basket, eh malah ketahuan dan berakhir di lapangan upacara dengan kulit yang tidak lagi putih (emang udah gak putih dari sononya).

Saya mulai mengenal beliau dan beliau juga mengenal saya (kali ini saya yakin sekali hehe…) ketika saya sudah duduk di kelas 3. karena beliau mengajar mata pelajaran Tata Negara.

Gara-gara beliau juga saya kemudian mengenal kalau di Universitas itu ada yang namanya jurusan Hubungan Internasional, dan belliau juga yang membuat saya tertarik dan merasa tertantang untuk masuk ke Jurusan tersebut nantinya. Padahal sebelum itu saya gak pernah tahu yang namanya HI, yang ada dipikiran saya ketika iotu adalah kalau saya lulus nanti maka saya akan masuk ke jurusan Ekonomi, kalo gak Akuntansi ya Manajemen (padahal Akuntansi saya jeblok berat hehe…)

Oke hal-hal yang diatas Cuma pengantar saja (buset pengantar nya panjang amat), yang ingin saya ceritakan adalah (jadi dari tadi itu belum cerita??? Riki please deh!) kejadian ketika kita semua akan menghadapi ujian akhir, atau yang waktu itu terkenal dengan sebutan EBTANAS.
Mungkin sudah umum di semua sekolahan, kalau hendak ikut ujian maka kita kudu melunasi semua kewajiban kita. Waktu saya di SMU 2 dulu ada dua jenis kewajiban bayaran yang harus di lunasi. Yang pertama namanya SPP yang jumlahnya adalah Rp.2.500/bulan dan satunya lagi namanya uang BP3 yang jumlahnya Rp.30.000 perbulan, nah dari sinilah cerita ini bergulir (akhirnya mulai juga ceritanya hehe…)

Jadi saya itu dulu bukanlah dari keluarga yang mampu, dibilang anak orang mampu jauh dari itu dan dibilang anak orang susah ya emang bener. Dan anehnya satu sekolahan gak ada yang percaya kalo saya anak orang susah, entah kenapa semua menganggap saya adalah anak yang mampu secara materi dan keuangan, sehingga kalo saya bilang ke temen-temen saya kalau saya gak punya uang gak ada yang percaya sama sekali.

Dulu itu uang jajan saya sehari termasuk ongkos angkotnya adalah Rp.1500 (untuk ukuran tahun 1997 itu sangat jauh dari memadai, sebagai gambaran waktu itu harga semangkuk mie ayam asal kenyang adalah Rp.700, dan harga sepeda motor Tiger adalah 12 juta perak, buset apa hubungannya ya? Jelas ada dong, artinya kalau saya mau beli motor Tiger maka saya harus nabung uang jajan saya selama 1000 hari dan pulang pergi sekolah kudu jalan kaki, padahal rumah saya ke sekolah jaraknya sekitar 20 Km, ogah kan!).

Balik lagi ke soal bayar-bayaran kewajiban, waktu itu ongkos angkot sekali jalan adalah Rp.300, bila dihitung PP maka totalnya adalah Rp.600. setiap jam istirahat siang saya selalu membeli Mie Ayam asal kenyang di kantin sekolahan seharga Rp.700, so total pengeluaran saya sehari adalah Rp.1300. itu artinya setiap hari saya punya tabungan 200 perak. Nah tabungan itulah yang saya kumpulin setiap hari untuk membayar SPP saya yang Rp.2500 sebulan itu.

Lalu darimana saya dapat uang untuk bayar uang BP3 yang 30.000 perbulan itu? Gak ada! Sekali lagi gak ada! Nothing, nihil!. Walhasil saya dari bulan ke bulan selalu nunggak membayar uang BP3 tersebut, dan ketika saatnya datang Ujian maka otomatis tunggakan saya sudah mencapai 12 bulan, yang artinya kalau di total adalah Rp.360.000
Dan boro-boro buat bayar yang 360.000 itu, untuk bayar SPP aja saya udah kesulitan, belum lagi 4 bulan terakhir di kelas 3 tersebut ada yang namanya pemantapan mengahadapi ujian akhir yang membuat kita pada pulang sore, yang menjadi masalahnya bukan pulang sore nya tapi biaya makan siangnya hehe…

Lalu ketika akan datang ujian maka otomatis saya dipanggil dong, ya namanya orang nunggak setahun dan bentar lagi mau ujian. Saya dipanggil Bu Oca waktu itu, ketika itu saya disuruh ke ruangan nya.

“Nak, kamu ini mau ikut ujian apa gak?” Tanya waktu itu

“Ya mau Bu..” jawab saya pelan

“Lha terus ini kenapa kamu kok masih belum bayar uang BP3 nya?”

“Maaf bu, saya gak bisa bayar uangnya, saya sama sekali gak punya uang..”

“Ah, kamu ini nak, kalau kamu ya gak punya uang tapi orang tuamu kan punya” sambut Bu Oca cepat.

“Bu… saya benar-benar gak mampu bayar uang sebanyak itu, dan saya gak tega minta ke orang tua saya” jawab saya

“Loh kenapa, kamu ini kan sepertinya anak orang yang mampu, masak gak bisa bayar?” Alhamdulilah Bu Oca Husnudzon ke saya…

“atau jangan-jangan uangnya udah kamu pakai untuk main kali?” Loh kok sekarang malah Suudzon? Hehe…

“Gak bu, sungguh saya bukan orang yang mampu, dan saya gak pernah pakai uangnya”

“Lha terus ini gimana? Kamu mau ikut ujian apa nggak?”

Dan kalian tahu apa yang saya lakukan saat itu? Saya bernegosiasi kawan!, saya kemudian menceritakan keadaan saya yang sebenarnya (kalau yang ini kalian gak perlu tahu, off the record aja hehe..), menceritakan kesulitan saya, menceritakan tentang sekelumit uang jajan yang pas-pasan untuk bayar SPP, dan semuanya.

“Begitulah bu… saya benar-benar gak bisa bayar…”

“Lha terus ini jadinya gimana?” Tanya Bu Oca lagi.

“Kalau saya boleh memohon Bu, tolong saya untuk dapat dibantu untuk hal yang ini, saya memohon kepada Ibu dan sekolah ini untuk membebaskan saya dari kewajiban membayar uang BP3 itu…”

“ya gak bisa nak, itu sudah menjadi persyaratan bagi yang akan mengikuti ujian, dan itu udah ketentuan dari sekolah” Tukas Bu Oca…

“Saya minta dan mohon sekali Bu, tolonglah saya kali ini, bila memang tidak ada keringanan dari ibu maupun pihak sekolah maka saya sepertinya tidak akan mengikuti Ebtanas bu”

“hmmm…” bu oca tampaknya berpikir keras sambil mengamati wajah saya, masih penasaran apakah saya sungguh-sungguh atau bo’ongan.

“Sungguh Bu, saya ingin sekali mengikuti ujian ini, saya juga ingin lulus Bu seperti anak-anak yang lain, tapi kalau disuruh bayar uang BP3 itu saya benar-benar gak mampu…” Suara saya sudah hamper nyangkut di tenggorokan, dan kayaknya kalau diterusin malah saya nanti nangis, jadi saya putuskan untuk berhenti bicara…

Bu Oca masih diam dan masih terus mengamati saya, sepertinya dia membaca perubahan di air muka saya.
Lalu saya menguatkan hati dan perasaan dan mengatakan kalimat yang gak akan pernah saya lupakan seumur hidup saya
“Bu… saya janji, kepada Bu Oca dan kepada diri saya sendiri, Insya Allah saya tidak akan mengecewakan Ibu dalam ujian nanti…” Saya sendiri gak tau entah kenapa ngomong kayak gitu, karena terus terang saya mempersiapkan diri saya selama setahun terakhir untuk UMPTN dan bukan untuk Ebtanas, which is soal-soalnya beda jauh banget!

Setelah lama terdiam, akhirnya Bu Oca angkat bicara.
“Baiklah nak, ibu mengerti, kamu boleh ikut ujian, kamu gak usah bayar BP3 nya…”

“Alhamdulillah, terima kasih banyak bu, saya akan ingat ini selalu…” ucap saya kegirangan seperti mau meledak rasanya dada saya saat itu.

“eh tapi satu lagi, jangan bilang sama siapa-siapa ya, bisa kacau nanti ini sekolahan kalau semuanya gak bayar kayak kamu” hehe… tapi maaf banget Bu Oca, akhirnya setelah 13 Tahun berlalu saya harus menceritakan ini.

So, mungkin saya bisa agak sedikit berbangga karena mungkin sayalah orang pertama yang bisa meraih “beasiswa” di SMU 2 haha… walaupun beasiswa nya penuh negosiasi dan penuh liku-liku tapi tetap saya syukuri sampai sekarang.

Well at least itulah sedikit kenangan saya dengan Guru kita yang baik hati ini, mungkin kalau waktu itu beliau tidak mengizinkan saya ikut ujian saya tidak tahu akan jadi apa saya sekarang. Kalau beliau tidak ada saya juga gak tau saya akan kuliah dimana kemarin dan akan jadi apa saya saat ini. Sekali lagi Butterfly effect itu memang ada.

Terakhir sekitar tahun 2000 an saat saya masih kuliah di Yogya, ada seorang anak SMU 2 yang baru masuk di kampus dan bertemu saya.

“Mas, yang namanya Rasyefki ya?” tanyanya

“Iya, kenapa ya?” jawab saya

“Saya alumni SMU 2 mas, ada salam dari Bu Oca, oh ya mas, dia sering nyeritain mas di kelas loh…” balasnya

Alhamdulilah ternyata Bu Oca masih mengingat saya dan semoga yang Bu Oca ceritakan ke anak-anak itu yang baik-baiknya saja hehe…

Anyway, semoga cepat sembuh Bu, do’a saya selalu bersama Ibu, dengar-dengar ibu juga mau menunaikan Ibadah haji tahun ini, semoga diberkati, diberikan kekuatan dan kesehatan sehingga bisa lancer ibadahnya dan Insya Allah menjadi Haji yang mabrur. Aminnn…

posted by rasyefki in Life and have No Comments

Place your comment

Please fill your data and comment below.
Name
Email
Website
Your comment