Ini adalah tulisan tentang sedikit hidup saya dimulai dari masa kuliah sampe dengan sekarang.
Apa sih untungnya jadi anak HI UGM? Apa sih enaknya kuliah di salah satu jurusan paling bergengsi di Universitas paling bergengsi di negeri ini? Gimana sih rasanya belajar disana? Bakal jadi apa sih setelah bisa lulus di HI UGM yang terkenal dengan slogan “Masuknya susah, lulus apalagi!” itu?
Well mungkin itu pertanyaan yang sampe sekarang masih terus berhamburan di kepala anak-anak HI, baik itu yang sudah lulus, yang masih kuliah atau yang sedang belajar keras untuk masuk HI UGM. Dan pertanyaan yang sama pula yang selalu merasuk di kepala saya, hingga saat ini, 5 tahun setelah saya lulus atau 10 tahun setelah saya pertama kali menginjakkan kaki di Kampus FISIPOL.
Selama itu pulalah saya kemudian menemukan jawaban akan pertanyaan-pertanyaan diatas, satu demi satu terjawab semua seiring dengan perjalanan hidup saya yang bisa dibilang gak mulus-mulus banget.
Well tadinya saya pikir hal-hal seperti ini akan saya simpan sendiri, tapi setelah saya timbang-timbang bahwa apa yang saya alami mungkin dapat berguna dan diambil pelajaran oleh orang lain maka akhirnya saya putuskan untuk menuliskannya di blog ini.
Masih tertarik untuk terus membaca tulisan ini? Bagus, berarti anda termasuk orang yang akan menemui beberapa hal yang mungkin aneh, ganjil, bahkan absurd dalam tulisan saya ini.
OSPEK
Mari kita mulai dari saya pertama kali masuk HI, saya seorang lulusan SMA di sebuah tempat di ujung Sumatera (tebak sendiri, ujung atas atau ujung bawah). Saya masuk HI pada tahun 1997, lewat UMPTN, well kenapa saya sebut ini karena menurut saya sangat menarik untuk melihat sebuah anggapan mahasiswa UGM di jaman saya (gak tau sekarang masih seperti atau tidak), di jaman saya ada anggapan bahwa masuk lewat UMPTN itu lebih bergensi ketimbang masuk lewat jalur lain seperti jalur bibit unggul atau bibit atlet.
Saat itu masih ada yang namanya Ospek (walaupun bahasanya diperhalus dengan nama yang aneh, saking anehnya saya sudah lupa) tapi intinya ya tetep sama, ya Ospek itu, beruntunglah mahasiswa sekarang yang mungkin sudah tidak merasakan lagi bagaimana sebuah feodalisme terus lestari saat itu, cukup aneh mengingat mahasiswa FISIPOL biasanya adalah mahasiswa yang paling menolak adanya kekerasan dan pemaksaan tapi di lain pihak ketika masa Ospek tiba semua senior berlaku layaknya tuan besar, ya saat itu sih yang paling sering terjadi adalah dibentak-bentak, di hardik, di suruh push up dan masih banyak lagi. Tapi ada satu hal yang membuat saya saat itu mual bukan, bukan bentak-bentaknya (saya sudah biasa di bentak emak saya), bukan pula menghardiknya (saya pikir itu adalah bentuk pelampiasan senior yang mungkin sedang ada masalah), dan bukan pula karena disuruh push up nya (jaman SMA saya pernah ikut paskibra yang dimana push up adalah makanan sehari—hari), justru yang paling mengganggu saya adalah bau mulut senior itu, ya sekali lagi bau mulut mereka, saya pernah mengalami dibentak-bentak hanya karena menatap mata seorang senior (hal yang sangat dilarang di masa ospek) dan saya dibentak oleh sekitar 5 orang senior yang kesemua mulutnya mengeluarkan bau alcohol! What the hell saya pikir, ini sebenarnya kampus atau lapo tuak sih? Apa maksud mereka dengan meminum alkohol sebelum menghukum atau membentak anak-anak baru? Untuk hal ini saya sampai sekarang tidak menemukan jawabannya.
Ospek waktu itu dikatakan sebagai pembekalan awal untuk belajar di kampus, Bah! saya pikir, pembekalan macam apa yang akan kita dapat kalau kita disuruh merayu pohon! (teman saya pernah di hukum untuk merayu pohon selama setengah jam) saya pikir ini kampus atau RSJ? Belum lagi ada teman saya yang dihukum keliling lapangan disuruh berteriak “saya gila”, sebenernya yang gila teman saya atau yang nyuruh?
Tapi apapun itu, ya seperti itulah Ospek dimasa saya, itu belum lagi terhitung dengan segala macam tugas yang mungkin tidak masuk diakal, mulai dari disuruh mengumpulkan uang pecahan 25 rupiah, mengumpulkan kacang hijau sebanyak 1000 butir, membuat tugas prakarya yang disuruh nya jam 7 malam dan harus sudah selesai pada esok hari jam 5 pagi, kalau saya pikir-pikir alangkah gilanya keadaan saat itu. Kalau dibilang itu merupakan saat pengenalan dan orientasi kampus, saya pikir jauh sekali dari tujuannya, karena begitu selesai Ospek kami bahkan tidak tahu bagaimana cara mengisi KRS!
Ospek saat itu berlangsung 4 hari, 2 hari di level universitas, dan 2 hari di level Fakultas, kabar yang beredar saat itu adalah bila kita tidak menghadiri semuanya maka kita dinyatakan tidak lulus Ospek, trus apasih akibatnya kalo kita gak lulus ospek? Well, ternyata sertifikat Ospek itu cuma diperlukan kalau kita mau ikut daftar beasiswa, that’s it! Dan belakangan juga terungkap kalo ternyata yang dibutuhkan hanya fotokopian saja, alhasil tentu saja kemudian banyak sekali fotokopi piagam-piagam ospek palsu yang beredar dengan cara menutup nama asli dan memfotokopinya, well a little bit crime for a scholarship, ya gak papa lah.
So karena saya merasa agak aneh dan tidak nyaman sama sekali dengan Ospek itu, akhirnya saya hanya datang di hari pertama dan hari terakhir, dan guess what? Saya dinyatakan lulus dan memperoleh piagam Ospek, mau tau gimana caranya, ya ketika saya masuk di hari terakhir lalu ditanyain (dengan nada membentak-bentak tentunya) oleh para senior, saya jawab saja dengan jawaban andalan sejuta umat di negeri ini ketika mereka bolos atau absen, ya! Tebakan kamu tepat, saya jawab dengan “Maaf Raka, saya sakit”. Oh ya mengenai panggilan Raka itu adalah panggilan untuk senior laki-laki,sedangkan untuk perempuannya panggilannya ‘Rakanita”, mau tau artinya? Sampe sekarang saya juga gak ngerti artinya apa, mungkin mereka merasa diri sebagai Rano Karno di film Puspa Indah Taman Hati kali ya! (buat yang gak tau, dalam film itu Rano Karno beperan sebagai Raka)
After all, saya ternyata dinyatakan lulus dengan hanya masuk 2 hari. Dan yang menyedihkan ternyata ada teman saya dengan segala daya dan upaya, masuk 4 hari, mengeluarkan banyak uang untuk keperluan semua tugas-tugas yang aneh-aneh dan ternyata dinyatakan tidak lulus! Entah kenapa…
KULIAH
Oke sekarang kita maju selangkah, saya ingin bercerita masa-masa kuliah di HI dulu. Bukan bermaksud mendiskreditkan pihak tertentu, tapi ini juga kayaknya berguna buat kalian yang sekarang masih kuliah, saya ingin cerita beberapa hal yang menarik tentang dosen-dosen HI.
Ada seorang dosen perempuan di HI yang cukup senior, dimana kalo kita ujian jangan pernah berharap kamu bakal dapat nilai baik kalo jawaban kalian hanya dua lembar walaupun jawaban kalian betul semua. Karena bagi ibu dosen yang satu ini nilai ujian berkorelasi dengan banyaknya jumlah kertas yang kalian gunakan, sebagai contoh, kalo kalian bisa menghabiskan 5 halaman folio dalam menulis jawaban maka otomatis dapet A, trus kalo 4 halaman dapet B, begitu terus sampai kalo kalian hanya satu halaman maka bersiap-siaplah untuk dapet D!
Trus ada juga dosen yang kalo ngasih nilai anak didiknya sesuka-sukanya, dosen satu ini gak pernah meriksa ujian anak didiknya, kalo ngajar jarang-jarang dan sekalinya ngajar gak lebih dari 10 menit. Saya pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana bapak dosen satu ini kalo ngasih nilai di daftar nilai dia menulis sekenanya saja! Jadi berdoalah kalo dia ngasih nilai semoga waktu di kolom nama kalian dia menuliskan nilai A. Oh ya buat kamu yang perempuan apalagi yang dianugerahi wajah cantik hati-hati dengan dosen satu ini, beliau terkenal mata keranjang bo!
Sekedar mengingat dosen-dosen lainnya maka saya memiliki rekaman memori mengenai beberapa dosen, seperti Alm. Pak Sugiyono yang selalu bercerita soal pengalaman hidupnya di Amerika dengan kota “Pennsylvania” dan mengajarkan bagaimana cara memakai dasi yang baik dan benar , trus pak Mochtar yang kalo ngajar volume suaranya lirih sekali, Bu Titik yang mengutamakan disiplin dilarang telat dan berpakaian seadanya kalau beliau ngajar maklum saja dijaman saya kuliah dulu masih banyak yang suka pake kaos oblong dan sendal jepit kalo kuliah, dan juga masih ada Pak Rizal yang mejanya penuh dengan lukisan sang anak dan mudah dikenali dengan logat batak yang kental serta kata-katanya yang masih saya ingat “tidak lulus kau!”.
Saya juga termasuk heran dengan range waktu kuliah di HI UGM yang menurut saya aneh bin ajaib, bayangkan baru 2 kali pertemuan dengan satu dosen tiba-tiba sudah ujian Mid semester, gak sampe dua bulan kemudian eh udah ujian akhir, walhasil sepertinya tidak pernah ada mata kuliah yang benar-benar tuntas di HI UGM itu.
Jaman saya kuliah dulu, angkatan saya termasuk yang terkemuka di cabang-cabang olahraga tertentu, kalo cuma sepak bola, bola voli atau bola basket sih boleh di adu dengan angkatan lain, bahkan dengan jurusan lain walaupun kalo maen bola banyakan berantemnya ketimbang maennya hehe…
Setelah menghabiskan semua teori dan mengambil mata kuliah pilihan, saya kemudian melanjutkan menulis skripsi. Oh ya buat kamu yang masih kuliah di HI saya kasih saran, biar IP kamu tinggi maka pinter-pinterlah milih mata kuliah yang dosennya gampang ngasih nilai bagus, jangan sok-sok an ngambil kuliah yang relevan, ambil aja kuliah dari jurusan lain yang antah berantah, gak ngerti atau gak ada kaitannya dengan HI sekalipun gak papa yang penting dapet A.
Skripsi saya ngambil soal Eropa, banyak yang bilang kalo nulis skripsi itu susah dan lama sehingga banyak mahasiswa yang kepentok di skripsi. Kalo saya boleh kasih saran buat kamu yang sekarang sedang nulis skripsi ada dua hal penting yang kudu diinget, pertama jangan pernah memikirkan untuk jeda walaupun hanya sehari apalagi seminggu karena begitu kamu berhenti maka kamu akan berhenti lagi dan lagi. Trus kalo kamu ingin beristirahat ketika menulis skripsi, berhentilah disaat kamu merasa sedang bersemangat-semangatnya sehingga kamu akan selalu ingat akan skripsi kamu, kalo kamu berhenti ketika kamu mentok maka saya bisa jamin kalo skripsi kamu itu akan berlanjut paling sebentar 2 minggu kemudian, gak percaya? Coba saja!
Saya menyelesaikan skripsi saya hanya dalam jangka waktu satu bulan, bukan, bukan karena saya pinter tapi karena saya menjalankan dua hal diatas. Dan yang paling unik adalah ujian skripsi saya yang hanya memakan waktu 15 menit! Dan saya dinyatakan lulus dan dapet nilai A, sekali lagi ini bukan karena saya pinter atau skripsi saya demikian dahsyat, tapi karena dosen-dosen nya gak ada yang capable di topik yang saya ambil (ini menurut pengakuan dosen penguji sendiri loh), so satu lagi saran buat kamu, kalo mo ngambil topik skripsi ambil yang kira-kira gak ada di mata kuliah hehe…
Tanggal 19 Februari 2002 saya diwisuda bersama ribuan orang lainnya, rasa bangga dan rasa haru menyeruak di kala itu, apalagi kedatangan orang tua dan keluarga besar yang memberikan semangat yang besar, buat kamu yang akan lulus jangan pernah melewatkan moment wisuda, karena itu adalah pengalaman sekali seumur hidup, ada beberapa temen saya yang bilang “ah, ngapain ikut wisuda, kan gak wajib, lagian Cuma ngabisin duit aja”, kalo saya bilang sih wisuda itu hal yang wajib dan sacral untuk diikuti, karena kalo lulus kuliah tanpa mengenakan toga dan berfoto di lobby HI rasanya kurang afdol!
SETELAH LULUS
Sekarang kita masuk ke tahap kehidupan saya selanjutnya, yaitu masa-masa pasca lulus dari HI.
Sama seperti kebanyakan lulusan lain, lulus dari HI UGM adalah suatu hal yang membanggakan dan membuat semangat berkobar ketika kita harus bersaing dengan lulusan almamater lain dalam mencari kerja. Berhubung HI selalu identik dengan menjadi diplomat maka saya juga mencoba untuk ikut ujian Departemen Luar Negeri yang diadakan setahun sekali itu.
Bersama ribuan pelamar lainnya saya ikut ujian tersebut, saya ikut dua kali malah yaitu tahun 2003 dan 2004, dan semuanya berakhir dengan kegagalan. Satu hal yang saya cermati di ujian menjadi pegawai Deplu ini adalah ternyata persentase peserta yang lulus justru kebanyakan dari jurusan Sastra (bahasa asing tentunya!). Lulusan HI sendiri malah hanya segelintir yang lolos, sekedar melihat ke angkatan saya hanya ada 2 orang, sekali lagi 2 orang yang masuk Deplu. Akhirnya saya berpikir ngapain kita capek-capek kuliah sekian tahun dengan segala mata kuliah diplomasi, negosiasi, Politik Luar Negeri, dan segala macam tetek bengek kalau ternyata ujian Bahasa jauh lebih dinilai ketimbang ujian ilmu ke diplomasiannya sendiri?
Buat kamu yang emang pengen banget jadi diplomat saya sarankan dari sekarang untuk mempersiapkan diri kamu mengikuti les bahasa asing, jangan bahasa Inggris karena pesaingnya ribuan dan kamu pastinya akan kalah dengan anak-anak lulusan sastra Inggris yang udah 4 tahun belajar. Ambillah bahasa yang masih jarang peminatnya seperti Jerman, Arab, Rusia atau Spanyol. Asal kamu tahu dulu di jaman saya test deplu hanya ada 2 orang yang ikut ujian bahasa arab dan salah satu dari mereka lulus, hanya ada 2 orang berbahasa Rusia dan salah satu dari mereka lulus, bandingkan dengan yang ikut Bahasa Inggris dari sekitar 1000 orang hanya 90 an orang yang dinyatakan lulus. Trus ada tips juga buat kamu yang nanti mengikuti test deplu, sering-seringlah baca berita yang ada di website deplu, kalau perlu download semua, karea dari sanalah 90% soal-soal yang akan keluar.
Tidak lulus dari deplu saya lalu mencoba melamar kemana-mana, Harian Kompas terbitan Sabtu dan Minggu serta website JobsBD adalah teman setia saya kala itu, setelah mengirim ratusan lamaran dan CV akhirnya saya di terima jadi reporter di salah satu stasiun televisi di Jakarta, hampir setahun saya disana namun saya merasa tidak betah karena gajinya selalu besar pasak daripada tiang, akhirnya saya memutuskan untuk hijrah ke Production House dan menjadi staff creative disana. Hanya bertahan 2 bulan saya lalu pindah lagi ke perusahaan consumer goods penghasil makanan kesehatan, saya diplot di bagian promotion and event. Hanya bertahan 6 bulan saya lalu hijrah lagi ke perusahaan operator seluler, seiring waktu berlalu saya sudah hampir 2 tahun di perusahaan ini dan sungguh menyenangkan ketika saya ditempatkan kembali ke Yogyakarta.
Kenapa saya ceritakan pengalaman kerja saya, itu supaya kalian dapat melihat bahwa tidak ada satupun dari pekerjaan saya yang memakai ilmu yang saya dapat ketika kuliah di HI dulu, jangan kan bicara soal diplomasi dan Resolusi konflik, ekonomi internasional dan Politik Luar Negeri, lupakan juga ilmu sebangsa Pengantar Ilmu Politik dan Pengantar Hukum, apalagi Kewiraan dan dasar-dasar logika wah gak banget!
So ngapain sih kita kuliah di HI kalo gak jadi diplomat? Entahlah sampai sekarang saya juga belum bisa menjawab pertanyaan itu, karena memang di kenyataan dunia luar sana tidak ada pekerjaan selain diplomat yang memakai ilmu yang kita dapatkan di HI. Teman-teman seangkatan saya ada lebih dari 10 orang yang menjadi Bankir saya berpikir kenapa juga dulu mereka gak kuliah di Ekonomi aja, lalu ada sekitar 5 orang yang menjadi wartawan saya kemudian juga berpikir kenapa juga gak kuliah di Komunikasi atau D3 broadcast aja dulu?, lalu ada bejibun yang menjadi marketing perusahaan ini dan itu (termasuk saya) saya juga berpikir kalau tau begini kenapa gak kuliah di YKPN aja dulu?
Terus terang sampai dengan saat ini yang saya rasakan Ijazah HI saya hanya berguna untuk “meresmikan” status saya sebagai lulusan S-1, dan asal kalian tahu ketika head hunter perusahaan udah mulai mencari pegawai maka sudah tidak ada lagi bedanya antara lulusan HI dengan lulusan pertanian, lulusan UGM dengan lulusan Pelita Harapan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Di akhir tulisan ini ada beberapa point yang ingin saya tekankan kepada kalian terutama yang masih kuliah dan juga saran kepada Departemen Luar Negeri (semoga temen-temen di deplu membaca tulisan ini dan menyampaikannya)
- Buat kamu yang pengen lulus, pastikan IP kamu diatas 3,00 karena sepertinya jaman sekarang IP segitu udah menjadi syarat mutlak. Head Hunter perusahaan tidak akan membedakan entah kamu dari UGM atau Universitas kacangan yang penting IP nya diatas 3,00 jadi buat kamu yang punya IP dibawah 3,00 tunda dululah keinginan kamu untuk lulus.
- Ada enaknya juga jadi lulusan HI karena kesempatan untuk menjadi selain diplomat terbuka lebar mulai dari wartawan, penerjemah, banker, marketing dll, jadi buat kamu yang gagal test Deplu tenang aja, masih banyak pekerjaan lain, walaupun pada akhirnya kamu akan merasa rugi dulu kuliah di HI tapi gak papa, itu lebih baik daripada gak kerja.
- Oh ya, tolong Mars HI dirubah, anak-anak HI merasa terhambat kemajuannya karena liriknya berbunyi “We Shall Not be Moved”, gimana mau maju or lulus kalo bergerak aja gak boleh?
- Kepada Departemen Luar Negeri saya memberi saran agar HI UGM dijadikan semacam ikatan dinas, sungguh tidak fair kalau kami yang belajar Diplomasi, negosiasi dan resolusi konflik serta Politik Luar Negeri harus dinilai berdasarkan kemampuan Bahasa Asing kami, dimana di HI UGM bahasa Inggris hanya diajarkan sampai Bahasa Inggris II dan tidak ada pelajaran bahasa asing lainnya sama sekali! Kalau misalnya Deplu tidak bisa memberikan ikatan dinas at least prioritaskan lah para lulusan HI dalam ujian Deplu. Semoga ada pejabat deplu yang nyelonong masuk blog dan membaca ini.
Well sepertinya sampai disini saja saya menulis blog ini, sudah terlalu panjang, nanti malah saya dikira curhat hehe… Salam buat semua alumni, dosen, ketua jurusan, dan mahasiswa yang ada di HI. Merdeka!!!!
If you enjoy our post, feel free to subscribes to our rss feeds























